Teori Belajar Skinner (Burrhus Frederick Skinner)

A. Riwayat Hidup Burrhus Frederick Skinner
Skiner dilahirkan pada 20 Mei 1904 di Susquehanna, Pennsylvania, Amerika Serikat. Masa kanak-kanaknya dilalui dengan kehidupan yang penuh kehangatan namun cukup ketat dalam disiplin. Meraih sarjana muda di hamilton College, New York, dalam bidang sastra Inggris. Pada tahun 1928, Skinner mulai memasuki kuliah psikologi di Universitas Harvard dengan mengkhususkan diri pada bidang tingkah laku hewan dan meraih doktor pada tahun 1931.
Dari tahun 1931 hingga 1936, Skinner bekerja di Harvard. Penelitian yang dilakukannya difokuskan pada penelitian mengenai saraf hewan. Pada tahun 1936 sampai 1945, Skinner meniti karirnya sebagai tenaga pengajar pada Universitas Mingoesta. Dalam kariernya Skinner menunjukkan produktifitas yang tinggi sehingga ia dikukuhkan sebagai pemimpin Behaviorisme yang terkemuka di Amerika Serikat.
Bidang psikologi yang didalami Skinner adalah analisis eksperimental atas tingkah laku. Ia melakukan penyilidikan terutama pada organisme infrahuman, biasanya tikus atau merpati. Di samping itu, Skinner juga menerapkan prinsip-prinsip pengondisian operan (operant conditioning) pada penyelidikan tentang psikotik pada orang dewasa, anak autis, analisis bahasa, dan perancangan mesin-mesin pengajaran. Diantara peraalatan rancangannya yang terkenal adalah kotak Skinner (Skinner Box). Skinner telah memberikan sumbangan yang berarti kepada pemahaman tingkah laku, khususnya menyangkut belajar.

B. Karya- Karya Burrhus Frederick Skinner
1. The Behavior of Organisme (1938)
2. Walden Two (1948)
3. Science and Human Behavior (1953)
4. Verbal Behavior (1957)
5. Shedules of Reinforcement (1957), dll.
C. Teori Skinner : Operant Conditioning
Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons, tetapi berbeda dengan kedua tokoh yang terdahulu itu, Skinner membuat perincian lebih jauh. Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:
a. Respondens Response (reflexive response), yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang-perangsang yang demikian itu, yang disebut eleciting stimuli, menimbulkan renspons-renspons yang secara relatif tetap, misalnya makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. Pada umumnya, perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respons yang ditimbulkannya.
b. Operant respons (instrumental respons) yaitu respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat renspons yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi, perangsang yang demikian itu mengikuti (dan karenanya memperkuat) sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar (telah melakukan perbuatan), lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar (responsnya menjadi lebih intensif/kuat).
Perbedaan antara operant conditioning dengan classical conditioning adalah bahwa pada classical, terbentuknya suatu tingkah laku yang diharapkan tidak memerlukan adanya reinforcer, karena stimulusnya sendiri sudah menimbulkan respons yang diharapkan. Sedangkan pada operant conditioning, suatu respons atau tingkah laku dibuat menjadi blebih kuat dengan memberikan reinforcer (stimulus yang memperkuat renspons).
Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang disebut dengan Skinner Box. Kotak Skinner ini berisi dua macam komponen pokok, yaitu manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri dari tombol, batang jeruji, dan pengungkit.
Dalam eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dengan cara lari kesana kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya. Tingkah laku tikus yang demikian disebut dengan ‘’ emmited behavior ” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organism tanpa memedulikan stimulus tertentu. Kemudian salah satu tingkah laku tikus (seperti cakaran kaki, sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke dalam wadahnya.
Butir-butir makanan yang muncul merupakan reinforce bagi tikus yang disebut dengan tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi reinforcement, yaitu penguatan berupa butiran-butiran makanan kedalam wadah makanan.
Teori belajar operant conditioning ini juga tunduk pada dua hukum operant yang berbeda lainnya, yaitu law operant conditioning dan law extinction. Menurut hukum operant conditioning, jika suatu tingkah diriingi oleh sebuah penguat (reinforcement), maka tingkah laku tersebut meningkat. Sedangkan menurut hukum law extinction, jika suatu tingkah laku yang diperkuat dengan stimulus penguat dalam kondisioning, tidak diiringi stimulus penguat, maka tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah. Kedua hukum ini pada dasarnya juga memiliki kesamaan dengan hukum pembiasaan klasik (classical conditioning).
D. Prinsip-prinsip belajar menurut Skinner
Hasil eksperimen yang dilakukan oleh Skinner menghasilkan beberapa prinsip-prinsip belajar yang menghasilkan perubahan perilaku, yaitu:
a. Reinforcement
Reinfoecemen didefinisikan sebagai sebagai sebuah konsekuen ang menguatkan tingkah laku (atau frekuensi tingkah laku). Keefektifan sebuah reinforcemen dalam proses belajar perlu ditunjukkan. Karena kita tidak dapat mengasumsikan sebuah konsekuen adalah reinforcer sampai terbukti bahwa konsekuen tersebut dapat menguatkan perilaku. Misalnya, pemen pada umumnya dapat menjadi reinforce bagi perilaku anak kecil, tetapi ketika mereka beranjak dewasa permen bukan lagi sesuatu yang menyenangkan, bahkan beberapa anak kecil juga tidak menyukai permen.
Secara umum reinforcemen dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a) Dari segi jenisnya, reinforcemen dibagi menjadi dua kategori yaitu, reinforcemen primer dan reinforcemen sekunder. Reinforcemen primer adalah reinforcemen berupa kebutuhan dasar manusia seperti, makanan, air, keamanan, kehangatan, dan lain sebagainya. Sedangkan reinforcemen sekunder adalah reinforcemen yang diasosiakan dengan reinforcemen primer.
b) Dari segi bentuknya, reinforcemen dibagi menjadi dua, yaitu reinforcemen positif dan reinforcemen negative. Reinforcemen positif adalah konsekuen yang diberikan untuk menguatkan atau meningkatkan perilaku seperti hadiah, pujian, kelulusan dan lain sebagainya. Sedangkan reinforcemen negative adalah menarik diri dari situasi yang tidak menyenangkan untuk menguatkan tingkah laku. Misalnya, guru yang membebaskan muridnya dari tugas membersihkan kamar mandi jika muridnya dapat menyelesaikan rumahnya.
c) Waktu pemberian reinforcement, keefektifan reinforcemen dalam perilaku tergantung pada berbagai factor, salah satu diantaranya adalah frekuensi atau jadwal pemberian reinforcement. Ada empat macam pemberian jadwal reinforcemen, yaitu:
 Fixed Ratio
 Variabel- Ratio
 Fixed Interval
 Variabel Interval
b. Punishment
Punishment adalah menghadirkan atau memberikan sebuah situasi yang tidak menyenangkan atau situasi yang ingin dihindari untuk menurunkan tingkah laku.
c. Shaping
Istilah shaping digunakan dalam teori belajar behaviorisme untuk menunjukkan pengajaran keterampilan-keterampilan baru atau perilaku-perilaku baru dengan memberikan penguatan kepada siswa untuk menguasai keterampilan atau perilaku tersebut dengan baik.
Adapun langkah-langkah dalam pemberian shaping adalah:
1. Memilih tujuan yang ingin dicapai;
2. Mengetahui kesiapan belajar siswa;
3. Mengembangkan sejumlah langkah yang akan memberikan bimbingan kepada siswa untuk melalui tahap demi tahap tujuannya dengan menyesuaikan kemampuan siswa;
4. Memberi feedback terhadap hasil belajar siswa.
d. Extinction
Extinction adalah mengurangi atau menurunkan tingkah laku dengan menarik reinforcement yang menyebabkan perilaku tersebut terjadi. Extinction ini terjadi melalui proses perlahan-lahan. Biasanya ketika reinforcement ditarik atau dihentikan perilaku individu sering meningkat seketika
e. Anteseden dan perubahan perilaku
Dalam operant conditioning, anteseden dapat memberikan petunjuk apakah sebuah perilaku akan mendapatkan konsekuen yang positif atau negatif.
Menurut Skinner, untuk menghasilkan perubahan perilaku pada diri individu, selain dengan memerhatikan konsekuen (consecuens), dapat juga digunakan anteseden-anteseden. Karena, sebagaimana telah disebutkan seebelumnya, perilaku manusia seperti sebuah sandwich atau serangkaian antesedents-behavior-consequens (A-B-C). Dalam hal ini, ada dua cara untuk mengontrol anteseden agar menghasilkan perilaku baru atau perubahan perilaku, yaitu dengan cueing dan prompting.

E. Kritik Terhadap Teori Tingkah Laku
Namun, sudah terang bahwa teori tingkah laku ini tidak bebas dari kritik. Teori tingkah laku ini dikritik karena sering tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak hal di dunia pendidikan yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon.
Kita ambil contoh, suatu saat seorang mahasiswa mau beelajaar giat setelah diberi stimulus tertentu. Tetapi karena satu dan lain hal, mahasiswa tersebut tiba-tiba tidak mau belajar lagi, padahal kepadanya sudah diberikan stimulus yang sama atau yang lebih baik dari itu. Disinilah persoalannya, ternyata teori tingkah laku ini dianggap tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respons tersebut. Tentu saja kita dapat mengganti stimulus dengan stimulus lain sampai kita mendapatkan respon yang kita inginkan. Tetapi kita tahu hal ini belum menjawab pertanyaan yang sebenarnya.
Disamping itu, teori belajar ini dianggap cenderung mengarahkan mahasiswa untuk berpikir linier, konvergen, dan tidak kreatif. Dengan prosesnya yang disebut “pembentukan’’ (shaping). Skinner dan ahli-ahli lain penyokong teori ini memang tidak meenganjurkan adanya “hukuman’’ digunakan dalam proses belajar. Tetapi apa yang mereka sebut “ penguat negatif’’ (negative reinforcement) cenderung membatasi keleluasaan mahasiswa untuk berimajinasi dan berpikir.
Skinner tidak percaya terhadap asumsi Guthrie, yaitu “hukuman’’ memegang peranan penting dalam proses belajar. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Ini tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaan tersebut adalah bila hukuman harus “diberikan’’ (sebagai stimulus) agar respons yang timbul berbeda dari biasanya ada, sedangkan “ penguat negatif’’ (sebagai stimulus) harus “dikurangi’’ agar espon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang mahasiswa perlu “dihukum’’ untuk suatu kesalahan yang dibuatnya (teori Guthrie). Jika mahasiswa masih bandel, maka hukuman harus ditambah. Tetapi, jika sesuatu yang tidak mengenakkan si mahasiswa itu dikurangi (bukan malah ditambah), dan pengurangan ini mendorong mahasiswa itu untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut “penguat negatif’’ (teori Skinner).

Daftar pustaka
Drs. H. Baharuddin M.Pd.I, Teori Belajar dan Pembelajaran,(Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008),
Sumadi Suryabrata (B.A, Drs., MA, Ed.S, Ph.D.), Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGravindo Persada, 1998),
Drs. Tajab M.A, Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya: Karya Abditama, 1994),
Suciati, Teori belajar dan motivasi, (Jakarta: Prasetya Irawan, 2001),

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • it’z me

  • Arsip

  • Singgah juga ya ^^

  • kaka_jogja ^^

  • Meta

  • kalender

    Agustus 2014
    S S R K J S M
    « Mei    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • twiter

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • life traffic feed

  • Flag Counter

    free counters
  • facebookQ

  • Qm peNgunjuNg ke

  • translate

    English French German Spain Italian Dutch

    Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    Translate Widget by Google
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya.

  • website’z friends

  • kaka’z musZik

  • yuk like_ n follow

  • Flag Map Visitor

    free counters
  • polling

  • penembushayalan.wordpress.com

  • Dynamic Glitter Text Generator at penembushayalan.wordpress.com
  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: